PTPN I Raih Adhi Praya 2026, Perkuat Hilirisasi untuk Tingkatkan Nilai Tambah Perkebunan

0

JAKARTA — PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) meraih penghargaan Adhi Praya 2026 atas komitmennya dalam mengembangkan hilirisasi perkebunan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. Penghargaan ini menjadi pengakuan atas upaya perusahaan dalam meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan sekaligus memperkuat kontribusinya terhadap perekonomian nasional.

Penghargaan tersebut diserahkan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto, kepada Direktur Utama PTPN I, Abdul Rivai Ras, di Jakarta, Selasa (27/10/2026).

Capaian ini menegaskan pentingnya hilirisasi sebagai strategi transformasi industri perkebunan. Melalui pengembangan industri pengolahan dan produk turunan, komoditas perkebunan tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi juga diolah menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.

Strategi tersebut sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, terutama dalam memperkuat ketahanan pangan, mendorong kemandirian energi, menciptakan lapangan kerja, dan memperluas pemerataan ekonomi.

Menteri Yandri Susanto menegaskan bahwa pembangunan harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Karena itu, setiap program pemerintah maupun kegiatan dunia usaha perlu diarahkan untuk memperluas kesempatan kerja, mengurangi kemiskinan, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Dengan aset perkebunan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, termasuk daerah terpencil, PTPN I memiliki posisi strategis dalam menggerakkan perekonomian daerah. Aktivitas perusahaan tidak hanya mendukung sektor perkebunan, tetapi juga membuka peluang kerja dan mendorong pertumbuhan usaha masyarakat di sekitar wilayah operasional.

Direktur Utama PTPN I Abdul Rivai Ras mengatakan, penghargaan Adhi Praya 2026 menjadi motivasi bagi perusahaan untuk mempercepat transformasi bisnis melalui pengembangan hilirisasi yang terukur dan berkelanjutan.

“Hilirisasi bagi PTPN I bukan sekadar pengembangan bisnis baru, melainkan transformasi fundamental untuk menciptakan nilai tambah dari potensi perkebunan Indonesia. Kami ingin memastikan komoditas tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi berkembang menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi yang memberikan manfaat bagi perusahaan dan masyarakat,” ujar Rivai.

BACA JUGA:  Mirza: Harga Singkong Stabil Adalah Hak Petani Lampung Tengah

Kembangkan Hilirisasi Komoditas Strategis

PTPN I mengembangkan hilirisasi berbagai komoditas strategis, antara lain jagung, kelapa, karet, kopi, kakao, jambu mete, dan pala. Pengembangan tersebut mempertimbangkan ketersediaan bahan baku, kebutuhan industri, kesiapan fasilitas pengolahan, serta peluang pasar.

Pada komoditas kelapa, misalnya, peluang pengembangan mencakup produksi minyak kelapa, virgin coconut oil (VCO), santan, air kelapa, hingga produk turunan berbasis sabut kelapa.

Sementara itu, hilirisasi jagung diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus membuka peluang pemanfaatan di sektor energi.

Di sektor gula dan energi terbarukan, PTPN I memperkuat ekosistem industri melalui PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) dan PT Energi Agro Nusantara (Enero). Salah satu potensi yang dikembangkan adalah pemanfaatan molase atau tetes tebu sebagai bahan baku bioetanol.

Menurut Rivai, keberhasilan hilirisasi tidak cukup diukur dari peningkatan kapasitas produksi. Lebih dari itu, diperlukan keterhubungan yang kuat antara sektor perkebunan, industri pengolahan, dan pasar agar rantai bisnis mampu menghasilkan nilai tambah secara berkelanjutan.

Integrasi tersebut diharapkan meningkatkan daya saing perusahaan sekaligus memperluas peluang ekonomi bagi petani, mitra usaha lokal, tenaga kerja, dan masyarakat di sekitar perkebunan.

“Pengembangan bisnis harus membangun ekosistem yang produktif dan inklusif. Dengan melibatkan petani, mitra usaha, tenaga kerja, dan masyarakat sekitar, hilirisasi diharapkan mampu menciptakan nilai tambah sekaligus memperluas manfaat ekonomi,” kata Rivai.

Perkuat Tata Kelola dan Efektivitas Investasi

Untuk memastikan pengembangan hilirisasi berjalan efektif, PTPN I memperkuat koordinasi lintas fungsi, pengendalian risiko, disiplin investasi, serta sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Setiap proyek diarahkan memiliki tahapan pelaksanaan, target waktu, penanggung jawab, dan mekanisme evaluasi yang terukur. Langkah ini penting untuk memastikan investasi perusahaan memberikan hasil optimal dan mendukung keberlanjutan usaha.

BACA JUGA:  Sidang Paripurna Istimewa DPRD Memperingati HUT Ke-59 Provinsi Lampung, Gubernur Arinal Djunaidi Apresiasi Sinergi antar Komponen Pembangunan

PTPN I juga mendorong penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), yakni aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola, dalam pengembangan bisnis. Selain itu, perusahaan memanfaatkan teknologi modern, termasuk drone dan sistem satelit, untuk memantau kondisi tanaman serta meningkatkan efektivitas pengelolaan perkebunan.

Rivai menegaskan, transformasi bisnis harus didukung pelaksanaan yang konsisten, target yang jelas, dan akuntabilitas yang kuat.

“Transformasi harus diwujudkan melalui langkah nyata, target yang jelas, dan akuntabilitas yang kuat. Kami ingin memastikan setiap pengembangan bisnis memberikan hasil yang terukur, memperkuat daya saing perusahaan, dan berkontribusi bagi perekonomian nasional,” tegasnya.

Penghargaan Adhi Praya 2026 menjadi momentum bagi PTPN I untuk memperkuat arah transformasi bisnis perkebunan melalui hilirisasi yang terintegrasi. Tantangan berikutnya adalah memastikan strategi tersebut berjalan efektif, mampu menciptakan nilai tambah secara berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Dengan penguatan industri pengolahan, pemanfaatan teknologi, serta keterlibatan petani dan mitra usaha, hilirisasi diharapkan tidak hanya meningkatkan daya saing perusahaan, tetapi juga mendukung ketahanan pangan, kemandirian energi, penciptaan lapangan kerja, dan pemerataan kesejahteraan masyarakat Indonesia. (*)

Facebook Comments