Jeritan Petani di Halaman DPRD Lampung: “Singkong Kami Bukan Mainan Harga!”

0

Suara jeritan bersahutan di halaman Gedung DPRD Provinsi Lampung, Senin (5/5/2025). Ratusan petani singkong dari berbagai daerah seperti Lampung Tengah, Tulang Bawang, dan Lampung Timur memadati area tersebut. Mereka membawa poster-poster sederhana bertuliskan “Harga Singkong Bikin Kami Menangis” dan “Kami Butuh Keadilan, Bukan Janji”.

Di tengah kerumunan, tampak seorang lelaki paruh baya berdiri memegang singkong yang sudah menghitam. “Ini hasil kerja berbulan-bulan, dijual cuma Rp700 per kilogram. Ini namanya penghinaan,” ujar Sukirno (52), petani asal Seputih Banyak, suaranya bergetar menahan emosi.

Harga singkong yang terus merosot menjadi titik api bagi para petani. Dari sebelumnya sempat menyentuh angka Rp1.200 per kilogram, kini anjlok drastis di bawah Rp800. Petani mengaku merugi karena biaya produksi jauh melampaui pendapatan. Tidak sedikit dari mereka yang terjerat utang, bahkan ada yang memilih berhenti menanam.

“Ada yang sampai jual motor buat tutup utang pupuk,” kata Wiwin (34), seorang ibu petani yang datang bersama suaminya dan anak berusia 3 tahun. “Kami ke sini bukan mau ribut, kami cuma mau didengar.”

Aksi damai ini bukan hanya teriakan marah, tetapi juga ungkapan luka yang lama terpendam. Beberapa petani duduk sambil membuka bekal nasi dari daun pisang, mengajak wartawan yang lewat untuk sekadar makan bersama. “Beginilah hidup kami, Mas. Nasi dari ladang sendiri, tapi tetap susah,” kata salah satu dari mereka sambil tersenyum getir.

Menanggapi aksi tersebut, Ketua Komisi II DPRD Lampung, Ahmad Suhada, menemui massa dan berjanji akan memanggil pihak pabrik tapioka serta Dinas Perdagangan dalam waktu dekat. “Kami tidak menutup mata. Aspirasi ini akan kami bawa ke rapat resmi,” ucapnya dari atas mobil komando.

BACA JUGA:  Gubernur Arinal Sampaikan Raperda Tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Provinsi Lampung Tahun Anggaran 2021

Namun bagi para petani, janji bukan lagi hal baru. “Sudah lima kali kami datang ke sini, Mas. Tapi harga tetap segitu-segitu aja,” kata Sukirno. “Kami cuma minta negara hadir.”

Sementara itu Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal usai aksi demo itu ia mengajak diskusi beberapa perwakilan pendemo.

Siang mulai merambat. Massa pun perlahan bubar, namun semangat mereka belum padam. Di antara jejak kaki dan sisa spanduk, tertinggal harapan—bahwa suatu hari, singkong yang mereka tanam bisa dihargai setimpal dengan keringat yang mereka tumpahkan.(*)

Facebook Comments