Lampung – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. H. Abdul Moeloek (RSUDAM) Lampung kembali menjadi sorotan publik. Belum genap dua bulan menjabat, Direktur Utama baru, dr. Imam Ghozali, Sp.An, KMN, langsung dihadapkan pada gelombang kritik, isu miring, hingga persoalan pelik yang menumpuk sejak lama.
Baru mulai merapikan konsolidasi internal, Imam sudah “diserbu” berbagai tudingan: mulai dari kinerja yang dipertanyakan, isu kedekatan dengan politisi, proyek rumah sakit, hingga keluhan pelayanan. Masalah-masalah warisan lama ikut menjerat rumah sakit rujukan terbesar di Provinsi Lampung itu.
Tak hanya itu, dalam beberapa pekan terakhir, ia juga harus menghadapi dugaan praktik pemerasan oleh oknum LSM. Isu ini mencuat karena adanya pemberitaan miring dan ancaman aksi demo yang disebut-sebut terkait permintaan persentase dari proyek rumah sakit.
Meski begitu, Imam yang sebelumnya menjabat sebagai Plt. Dirut RSUDAM, menegaskan tidak akan mundur. Ia mengaku sudah siap menghadapi tantangan besar yang menunggu.
> “Bismillah. Saya paham masalah RSUDAM tidak sedikit, tapi ini rumah sakit kita bersama. Saya ingin semua pihak—tenaga kesehatan, manajemen, maupun masyarakat—ikut bergerak memperbaiki,” ujarnya optimistis.
Harapan Kepala Daerah
Gubernur Rahmat Mirzani Djausal bersama Wakil Gubernur Jihan Nurlela menegaskan, perubahan di RSUD Abdul Moeloek memang tidak bisa instan. Namun, dengan kepemimpinan baru, keduanya optimistis RSUDAM bisa menjadi rumah sakit modern, ramah, dan profesional, bukan lagi sekadar “tempat berobat terakhir”.
Imam sendiri bukan sosok asing. Sebelum terpilih melalui seleksi terbuka Pemprov Lampung, ia sudah lama berkecimpung di RSUDAM dan memahami peta persoalan di dalamnya.
Segudang PR Menanti
RSUDAM, yang berdiri sejak 1937, selama ini menjadi wajah pelayanan kesehatan Lampung. Dari 15 kabupaten/kota, mayoritas pasien dengan kondisi serius berakhir di rumah sakit ini. Tingginya beban kerja berbanding lurus dengan ekspektasi publik yang besar.
Namun, sederet persoalan masih menghantui: mulai dari peralatan medis vital seperti MRI dan CT-Scan yang belum optimal, masalah kebersihan dan ruang tunggu, hingga persoalan insentif tenaga kesehatan yang belum sepenuhnya tuntas. Lembaga pemeriksa negara pun menyoroti pengelolaan keuangan dan proyek, bahkan isu pungutan liar hingga dugaan permainan dalam pengadaan ikut mencuat.
Momentum Perubahan
Meski deras kritik sudah mengalir, sejumlah pengamat menilai Imam perlu diberi waktu untuk membuktikan diri. Pengalaman panjangnya di RSUDAM dianggap modal penting untuk mengurai masalah satu per satu.
Harapan masyarakat pun sederhana namun tegas.
> “Kami tahu tidak bisa langsung sempurna, tapi paling tidak ada perubahan nyata. Itu yang kami tunggu,” kata Sulastri, salah satu keluarga pasien.
Kini, publik menanti apakah Imam Ghozali mampu mengubah wajah RSUDAM yang selama ini sarat keluhan, menjadi rumah sakit yang membawa harapan baru dan senyum lega bagi pasien.
> “Insya Allah, dengan doa masyarakat Lampung dan dukungan semua pihak, saya akan berusaha membenahi persoalan satu per satu,” pungkasnya. (*).









